Kontraktor Kubah Masjid di Manado Sulawesi Utara

Kontraktor Kubah Masjid di Manado Sulawesi Utara

Suatu hari seorang ibu mempunyai anak satu sedang memasak di dapur. Ibu ini masih sangat muda. Usianya masih dua puluh dua tahun. Ibu ini menikah pada usia dua puluh satu tahun, tepatnya satu tahun lalu. Dua bulan lalu ibu ini melahirkan anak pertamanya. Anak pertama yang berjenis kelamin laki-laki ini sangat pendiam sekali. Sepertinya anak laki-laki ini sudah mengerti keadaan ibunya yang saat itu memang sudah harus mandiri merawat sang bayi sendirian. Walaupun masih dua bulan ibu ini melahirkan tetapi semua pekerjaan rumah dan mengurus anak di lakukan sendirian. Hanya setiap saat neneknya datang membantu sang ibu ini mengurus rumah. Maklum sang nenek juga sedang mempunyai tanggung jawab menjadi istri dan menjaga toko kecil-kecillan di depan rumahnya. Suami ibu ini bekerja sebagai kontraktor kubah masjid di kota Manado.

Ibu satu anak ini melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci baju, masak, mencuci piring, membersihkan rumah, dan mengurus anaknya tanpa mengenal lelah. Saat memasak ibu ini menidurkan anaknya di sebuah ranjang dekat dengan dapurnya agar bisa dia awasi anaknya sambil memasak. Tidak hanya memasak saja ibu ini menidurkan anaknya di ranjang tersebut, tetapi setiap ia melakukan semua pekerjaan rumah kecuali jika sang ibu ini membersihkan rumah sang anak di gendong. Sudah hampir setiap hari ibu satu anak ini melakukan hal tersebut. Sang suami yang bekerja sebagai kontraktor kubah masjid sebenarnya merasa kasihan kepada istrinya yang bekerja sebegitu kerasnya mengurus rumah tangga. Akan tetapi apa daya sang suami sangat sibuk dengan pekerjaannya dan sang istri tidak mau di bantu. Sang suami sudah berkali-kali menawari untuk dicarikan pembantu rumah tangga tetapi sang istri tetap menolak tawaran suaminya itu.

Sang istri sangat memaklumi pekerjaan suami sebagai kontraktor kubah masjid jika sang suami tidak bisa membantunya mengurus pekerjaan rumah. Karena sang suami yang bekerjanya hingga larut malam baru pulang ke rumah. Pasti rasa capek juga datang kepada sang suami yang mengurus pesanan hingga pengiriman barang sampai pada konsumen. Dengan fikiran yang seperti ini membuat sang istri juga sanggup bekerja keras di rumah mengurus semua pekerjaan rumah sendirian. Sang anak pun juga mengerti keadaan orang tuanya yang super sibuk tersebut, dia tidak pernah rewel ketika orang tuanya sedang bekerja mengerjakan tugas masing-masing. Jika malam tiba sang bayi juga tidak pernah rewel. Dia menangis jika dia butuh minum susu dan sedang ngopol saja, selebihnya dia diam saja. Sang suami yang bekerja sebagai kontraktor kubah masjid tersebut juga kadang di rumah pula masing mengerjakan pekerjaan kantor yang belum kelar. Namun, suami istri ini tetap saling mendukung dan saling pengertian satu sama lain.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *